Senin, 14 November 2016

Pentingnya Sertifikasi Mutu untuk Produk Pengolahan Hasil Perikanan



Sertifikasi produk adalah pemberian jaminan tertulis dari pihak ketiga independen bahwa suatu produk beserta proses yang mendukungnya telah memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, keselamatan dan lingkungan. Sertifikasi produk pangan telah diatur oleh Pemerintah melalui Undang-Undang Pangan, Undang-Undang Perikanan dan Undang-Undang lainnya. Standar produk dan proses pengolahan serta prinsip keamanan pangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembinaan mutu.
Untuk produk olahan perikanan, sertifikat yang diperlukan adalah Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sertifikat Tanda Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro), PIRT dan MD untuk ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).  Sertifikat MD diwajibkan bagi produk olahan yang masuk kategori berisiko tinggi (high risk) dari sisi keamanan pangan, adapun produk olahan perikanan yang mempunyai kategori risiko rendah (low risk) cukup dengan label PIRT.   Produk olahan perikanan yang masuk dalam kategori high risk adalah produk yang “basah” sehingga memerlukan penanganan ekstra hati-hati seperti misalnya baso, otak-otak, kaki naga, siomay, chikuwa, empek-empek.  Sedangkan produk perikanan yang masuk kategori low-risk seperti abon ikan, ikan asin kering, terasi udang, kerupuk ikan.
Penerapan sertifikasi pada produk perikanan tak hanya menjamin soal mutu, namun juga bisa memperkuat nilai di mata konsumen. Sertifikasi bisa dijadikan sebagai senjata yang ampuh untuk pemasaran, karena sekarang konsumen sudah mulai peduli terhadap mutu produk yang akan dibeli. Banyak contoh pelaku usaha yang mendapati permintaan produknya naik setelah bersertifikat. 

Oleh Samsi Haryono
Pola Artikel: Deduktif


Tidak ada komentar:

Posting Komentar